BEDAH FILM. Usai pemutaran film dokumenter, diadakan bedah film bersama Bambang Hengky (ikat kepala) dan Agus Wuryanto, kemarin (7/2), di Perpusda. foto Erwin abdillah

WONOSOBO – Film Dokumenter terbaru garapan reporter senior asal Wonosobo, Bambang Hengky yang bertajuk ‘Aura Magis Musik Bundengan’ diputar perdana di kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Wonosobo, kemarin (7/2). Film yang mengangkat tentang sejarah instrument khas lereng Sindoro Sumbing tersebut juga mengisahkan sejarah kebangkitan Bundengan yang diangkat kembali oleh almarhum Barnawi, seorang seniman asal Kalikajar yang meninggal 2012 lalu tanpa tanda jasa.

“Bundengan atau Koangan atau Tudung merupakan sebuah penutup badan yang biasa digunakan petani atau bocah angon dan dibuat dari rangka bambu yang ditutup dengan kulit bambu atau slumpring. Musik bundengan, dulunya menggunakan ijuk (sebagai senar) dan beberapa batang bambu yang suaranya jika dipetik serupa dengan musik gending dan gendang. Alm Barnawi memodifikasi ijuk dengan senar nilon sehingga suaranya lebih nyaring dan tahan lama,” jelas Agus Wuryanto, Penulis naskah dan Budayawan Wonosobo saat bedah film di Ruang Cinema Perpusda, kemarin (7/2).

BEDAH FILM. Usai pemutaran film dokumenter, diadakan bedah film bersama Bambang Hengky (ikat kepala) dan Agus Wuryanto, kemarin (7/2), di Perpusda. foto Erwin abdillah

 Menurut Agus, saat musik Bundengan diperkenalkan kepada akademisi ISI Jogja, banyak yang terpukau kaerna baru pertama kali melihat instrument unik tersebut. Bahkan semasa Barnawi hidup, Agus kerap mengajaknya bersama grup lengger untuk tampil di berbagai kota. Namun kini penerus musik Bundengan sangat sedikit, bahkan salah satu penerusnya hanyalah Munir, adik kandung Barnawi. Maka Bambang Hengky yang merupakan praktisi perfilman mengangkat tema tersebut untuk menggali keunikan musik bundengan dan Agus Wur melacak sejarahnya hingga ke kitab kuno WretaSancaya.

“Tujuan digarapnya film ini adalah untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda ikut melestarikan seni budaya kita yang Adi Luhung, termasuk seni Bundengan yang sempat tertidur selama 20 tahun lebih, yang pernah dikenal luas pada tahun 50-an hingga 70-an. Saya yakin potensi Bundengan ini bisa dibawa hingga ke luar negeri seperti alat musik tradisional lainnya, seperti sasando,” jelas Bambang Hengky yang berkiprah di jurnalis video sejak tahun 90an itu.

Penggarapan film selama dua minggu lebih, diakui Hengky tidak menemui kendala yang berarti. Selain itu, Bambang dan kru juga mendapat dukungan penuh dari kantor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam pendanaannya.

“Harapan kami, nantinya film ini bisa diputar di sekolah-sekolah. Namun akan kami sempurnakan lagi dan akan kami lakukan editing hingga nantinya bisa disebarluaskan,” ungkap Hengky.

Saat tanya jawab bersama komunitas Himpunan Penggemar Photo Wonosobo yang juga didirikan oleh Hengky, Agus, dan para penggarap film, diakuinya bahwa film tersebut digarap dengan peralatan yang cukup sederhana. Sehingga bisa memberi contoh kepada para pembuat film lokal bahwa kreatifitas tidak terbatas pada peralatan semata. Harapannya, dilm yang rampung pada Desember 2015 itu bisa menginspirasi para pelajar dan pemuda yang ingin mengangkat kearifan lokal Wonosobo. (win)