APIK. Kolaborasi bundengan dan berbagai alat musik mengiringi pentas drama musikal bertajuk Horas Jakarta oleh KKL UNJ di Pendopo Kabupaten, kemarin (14/3). Foto erwin/wonosobo

Ekspos sisi lain musik bundengan

WONOSOBO – Presentasi Kuliah Kerja Lapangan menjadi persembahan puncak dari para mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang selama tiga hari terakhir mengeksplorasi seni budaya Wonosobo khususnya alat musik Bundengan. Pentas yang dikemas dalam drama musikal bertajuk Horas Jakarta ditampilkan di pendopo Wonosobo, Rabu (14/3) sore. Tak hanya perwakilan pemkab, masyarakat umum, komunitas, hingga para pelajar ikut meramaikan agenda tersebut.

Bahkan menurut Mulyani, pimpinan Sanggar Ngesti Laras yang menjadi tuan rumah dari rombongan mahasiswa UNJ tersebut, agenda serupa masih tergolong langka. Pasalnya pentas bundengan yang dikolaborasikan dalam sebuah drama musikal yang juga dihias dengan tarian menjadikannya seakan memiliki sisi lain yang menarik kaum muda.

“Kami berterimakasih atas atensi dan keseriusan rombongan KKL dari UNJ, dalam kurun waktu sehari bisa menguasai bundengan dengan lagu pengirinnya. Bahkan memasukkan bundengan di orchestra yang mereka sajikan dalam Horas Jakarta, menarik dan apik sekali,” ungkap Mulyani.

Dosen pendamping 44 mahasiswa UNJ, Cecilia Hardiyarini mengaku sangat berterimakasih atas respon masyarakat dan kiprah Mulyani selama mahasiswanya menimba pengalaman di Wonosobo. di Horas Jakarta mereka mengolaborasikan bundengan bersama berbagai alat musik termasuk biola, kendang, seruling, hingga gamelan dengan format mini orkestra.

APIK. Kolaborasi bundengan dan berbagai alat musik mengiringi pentas drama musikal bertajuk Horas Jakarta oleh KKL UNJ di Pendopo Kabupaten, kemarin (14/3). Foto erwin/wonosobo

“Kesempatan ini adalah salah satu momen penting, terlebih saat ini alat-alat musik tradisi kita jarang dilirik karena masalah tren dan daya tarik. Tapi nyatanya dari sisi budaya memiliki nilai yang tinggi dan harus diperkenalkan dengan cara yang baru dan menarik,” kata Cecilia.

Wonosobo dinilai memiliki mudaya dan aset wisata yang sangat mendukung untuk mengangkat bundengan. Tingkat inovasi di zaman dahulu yang bisa menemukan alat serupa bundengan dinilai capaian yang tinggi dan masyarakat asli WOnosobo harus berbangga dengan asset itu.

Kabid Promosi Wisata, Bambang Trie yang mewakili dinas pariwisata dan budaya juga mengapresiasi karya yang dipentaskan para Mahasiswa dan harapkankegiatan serupa bisa diadakan dan didorong dari kampus-kampus yang memiliki jurusan seni. Selain itu Bambang juga mengapresiasi Mulyani yang gigih mengangkat Bundengan bahkan sampai di Australia bulan lalu.

Senada, Wakil Bupati Agus Subagiyo yang hadir dan ikut mengisi sarasehan usai pentas juga berpesan agar para mahasiswa juga ikut mendukung bundengan dengan mengenalkannya di Jakarta. Diharapkan juga mereka bisa mendorong diadakannya konser musik tradisi di Wonosobo.

“Kami harap kegiatan seperti ini bisa terus digiatkan. Semoga di kesempatan berikutnya rekan-rekan dari UNJ bisa berkunjung dan menikmati wisata alam Wonosobo yang indah,” ungkap Wabup yang juga menyumbang beberapa lagu.

Horas Jakarta mengambil plot seorang pemuda batak yang melakukan perjalanan udara dari kampung halamannya dengan latar musik dan lagu yang beragam, mulai dari lagu batak, betawi, hingga jawa. (win)