Ratusan Guru Seni Dikenalkan Alat Musik Bundengan

WONOSOBO – Pra acara Konser Bundengan dalam tema What Is Bundengan 2018 termasuk Workshop bertajuk Bundengan Talks yang menghadirkan 100 lebih guru Seni Se-Wonosobo tingkat  SMP dan SMA sederajat, di Ruang Mangunkusumo Sekretariat daerah, kemarin (19/11/2018). Agenda yang dibuka oleh Kepala dinas pariwisata One Andang Wardoyo itu dikemas dalam penyampaian materi dan praktik selama sehari. Bahkan juga menghadirkan para maestro bundengan asal Ngabean Kalikajar, Pak Munir dan Pak Bohori yang selama ini dikenal melestarikan alat music dari tudung untuk angon bebek itu.

“Harapan kami, rekan-rekan guru di sekolah bisa ikut andil dalam mengenalkan bundengan ini ke sekolah, ke siswa-siswa karena sayang sekali kalau Bundengan kurang kita eksplorasi. Padahal banyak peneliti asing yang jauh-jauh ke Wonosobo hanya untuk meneliti bundengan dan Februari 2018 lalu Bundengan Wonosobo juga tampil di Australia dan kini jadi perhatian Internasional,” ungkap Andang yang juga mengisi materi pertama itu.

Empat pemateri isi Bundengan Talks diakhiri dengan Diskusi dan Berlatih Bundengan, 19 Nov 2018

Hadir sebagai pemateri, Palmer Keen seorang Ethnomusikologis asal Amerika Serikat yang pertama kali meneliti bundengan pada 2016 lalu dan mengembangkan media bernama auralarchipelago. Palmer sendiri berbagi prosesnya dalam meneliti alat music tradisional di seluruh Indonesia termasuk Bundengan yang jadi salah satu awalnya dalam meneliti hingga ke Wonosobo.

Sementara itu, pemateri lain merupakan musisi muda pendiri WooHoo Art Space, Lukmanul Chakim yang pada Februari lalu bersama Mulyani dan Said Abdullah berangkat ke Australia untuk mementaskan music bundengan berkolaborasi dengan seniman kontemporer.

“Kami ingin memberikan perspektif baru kepada para guru di Wonosobo untuk bisa mengenal dan harapannya mencintai alat music khas yang selama ini kurang diekspos. Padahal banyak peneliti yang sudah datang ke sini hanya untuk mencari Bundengan ini. Kami juga memberi gambaran tentang Konser Bundengan pada 26 November mendatang,” ungkap Lukman yang kerap tampil di berbagai daerah bersama band internasional Hey Mister.

Sementara itu menurut Mulyani, materi pelatihan dan pengembangan disampaikannya sebagai gambaran bahwa di SMPN 2 Selomerto sudah mempraktikkan materi Bundengan dalam mata pelajaran.

“Apa yang saya lakukan di SMPN 2 Selomerto saya jelaskan secara gambling dan di sekolah kami sudah masuk di pelajaran dan masuk silabus. Bahkan ada tesnya juga. kita pelajari musik bundengan karena setiap sekolah bebas dan minimal dua jenis. RPP juga sudah saya bagikan dan jika berkenan melakukan serupa seperti kami,” ungkap pengasuh Sanggar Ngesti Laras itu.

Untuk memulai materi, butuh sedikitnya 10 unit Bundengan dan harganya sekitar Rp300.000. Mulyani juga sudah mengusulkan pada Dinas Pendidikan agar setiap sekolah bisa menganggarkan untuk pembelian alat music bundengan. Namun dikatakan Mulyani, kebijakan kepala sekolah memang sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan untuk adanya materi dan pengadaan alat music bundengan itu.

“Kami sangat tertarik dengan acara ini, apalagi memang selama ini hanya mendengar tentang bundengan tapi belum pernah mencoba sendiri. Kalau selama ini, kendalanya memang di alat yang mungkin belum dimiliki sekolah-sekolah. Namun jika harganya bisa dijangkau maka nantinya bisa dimasukkan dalam anggaran, kami optimis Bundengan bisa populer di Wonosobo dimulai dari Sekolah,” ungkap salah satu peserta asal SMPN 4 kertek, Teguh Priyono.

Menurutnya, agar bundengan masuk ke muatan lokal di pembelajaran juga bisa ditindaklanjuti dengan workshop untuk para guru seni untuk pelatihan memainkan Bundengan. Hal itu mengingat, seni-seni tradisi selama ini bahkan lebih diterima di sekolah-sekolah pinggiran dan siswa umumnya langsung belajar di masyarakat.

“Saya kira tingkat kesulitannya tidak begitu berat dan teman-teman saya lihat cukup familiar dengan lagunya. Untuk muatan local dari kebijakan daerah memang belum ada dan ini bisa jadi peluang untuk branding daerah. Masuk pada materi permainan music tradisional dan masih sangat potensial,” pungkas Teguh. (win)