Antar Bundengan Wonosobo Jadi Perhatian Internasional

Usai mengisi agenda Bundengan Talks di aula Sekretariat Daerah Wonosobo, Senin (19/11/2018), Palmer Keen seorang Ethnomusikologis asal Amerika Serikat yang kini bermukim di Jogjakarta bercerita pengalamannya dalam menggali kekayaan alat music tradisional nusantara. Ketika dua tahun yang lalu (2016) mengunjungi Wonosobo dan meneliti bundengan, popularitas bundengan belum seperti saat ini. Bahkan video permainan Bundengan Wonosobo yang diunggah Palmer ke Youtube tahun 2017 lalu, kini sudah ditonton sekitar 4.646 kali dan video yang diunggah ke facebook kini sudah ditonton lebih dari 111.000 kali dan dibagikan 1553 kali oleh penonton dari berbagai Negara. Di video itu, Munir seniman Bundengan yang merupakan saudara atau adik dari Barnawi (almarhum) tampil memainkan sebuah lagu dengan diiringi bundengan.

Palmer Keen (USA)

DISKUSI. Usai mengisi workshop Bundengan Talks Palmer Keen berdiskusi bersama salah satu peserta guru seni, di Ruang Tjokromangoenkusumo Setda Senin (19/11/2018).

“Di Bundengan talks, saya hanya cerita tentang pengalaman saya dengan Bundengan yang jadi penelitian saya di Wonosobo. Selain itu bagaimana saya membagi proses penelitian saya lewat website saya auralarchipelago.com. respon masyarakat dan para akademisi sangat baik dan video saya viral di Facebook. Saya juga ikut Simposium di Australia dan jadi pengalaman luar biasa juga. Bundengan dikenal Internasional,” ugkap Palmer yang hadir bersama istrinya di Wonosobo kemarin (19/11).

Bahkan saat pertama kali meneliti bundengan, Palmer sendiri tidak mengira respon masyarakat bisa seperti ini dan bahkan disambut pemkab Wonosobo dengan diadakannya Konser Bundengan What is Bundengan Fest 2018 bersama para musisi muda dan para penggiat music bundengan lokal.

“Di Simposium Australia, kami melihat respon para akademisi terutama para Ethnomusikologis yang ahli dalam music tradisional di Indonesia dan memang jarang yang tahu atau meneliti tentang bundengan.  Dan symposium itu memang yang pertama kali diadakan dengan mengangkat bundengan. Bahkan saya melihat para musisi muda di Wonosobo seperti Lukman yang berambisi untuk mengangkat bundengan dengan Konser WIB ini,” ungkap Palmer.

Dirinya juga merasa bangga dengan para musisi muda yang menggagas rangkaian acara What is Bundengan (WIB) dan tidak terkesan menunggu pemerintah. Maka sudah seharusnya pihak pemerintah juga memberi perhatian kepada mereka, terutama mengangkat alat music khas bundengan.

“Ada lagi yang ingin saya teliti di sini (Wonosobo) selain bundengan yaitu music Angklung yang dimainkan untuk mengiringi Emblek kuda lumping. Bukan angklung yang biasanya, tapi yang besar da nada di daerah Wadaslintang dan itu pengaruh dari daerah Banyumas,” pungkas Palmer yang hingga kini masih menjelajah nusantara dan meneliti alat music tradisional hingga ke penjuru tanah air.

Erwin Abdillah, Wonosobo