Bundengan berawal dari fungsi utamanya sebagai kowangan atau tudung yang biasanya digunakan oleh penggembala bebek di sawah. Masyarakat menamakan ini sebagai “kowangan”, alat untuk berteduh atau pelindung tubuh dari sengatan matahari dan guyuran hujan. Bundengan berasal dari kowangan yang telah dipasangi elemen-elemen tambahan berupa ijuk dan sekarang beralih menjadi senar sebagai dawai yang menimbulkan resonansi.

Bundengan Youtube Channel, Video by Arma Deni Onchow

Abad ke-12 : Kitab Wreta Sancaya

Bundengan adalah sebuah alat musik yang berumur cukup tua, dibuktikan dengan sebuah tulisan dalam kitab Wreta Sancaya sekitar abad 1. Pada bait 93, Sekar Mandraka yang disebut “Tudung itu adalah tetabuhan untuk wayang”. Tudung (dalam Jawa) adalah penutup kepala, yang biasa disebut kowangan atau bundengan, yang berfungsi juga untuk tetabuhan.

1912 : Foto Bundengan / Kowangan di Museum Belanda

Telah ditemukan foto dokumentasi benda menyerupai bentuk Bundengan atau Kowangan di wilayah desa Garung  di Museum Belanda. Foto menggambarkan situasi pedesaan, penduduk lokal dan beberapa bundengan / kowangan yang bersender di tiang rumah. Ini bukti bahwa keberadaannya sudah ada sejak tahun 1912, namun apakah alat tersebut sudah dimainkan sebagai alat musik?

1930 : Kunst dan Gembala bebek

Berterimakasihlah pada Kunst, seorang etnomusikolog dari Belanda yang menemukan sekelompok penggembala (angon) bebek sedang duduk membentuk lingkaran bersenandung dengan iringan musik dari tudung yang melindungi kepala dan punggung mereka sembari beristirahat menunggu hujan reda.

1972 : Margaret Kartomi dan Oleh-oleh dari Dieng

Prof Margaret Kartomi, pakar etnomusikologi telah banyak melakukan penelitian musik asal Indonesia. Perjalananan di tahun 1972 ke Indonesia, ketika dia dan suaminya mengunjungi Dataran Tinggi Dieng, mereka menemukan alat musik bundengan tersebut dan membawanya ke Melbourne. Kini bundengan tersebut masih ada di Music Archive of Monash University (MAMU).

1990-2012 : Barnawi, sang maestro

Barnawi adalah sosok yang sangat berjasa mengenalkan bundengan yang awalnya hanya dimainkan di sawah, kemudian dipentaskan di atas panggung sebagai “pertunjukan”. Berawal dari keisengan Barnawi untuk mengisi waktu senggang sambil menggembala bebek , beliau membentangkan enam ijuk pada bagian dalam kowangan, yang selanjutnya ijuk itu mulai dipetiknya, dan berhasil mengeluarkan bunyi. Namun, karena bunyinya nyaris tak terdengar, maka Barnawi memodifikasinya. Ijuk diganti menggunakan senar raket dan guntingan ban dalam sepeda. Sedangkan di bagian luarnya ditambahkan ingis (kulit bambu) dengan posisi tegak di bawah bentangan ban dalam.

Para Pelestari Bundengan era Modern

Setelah sang maestro Bundengan, Barnawi , yang meninggal pada tahun 2012,  pertunjukan bundengan vakum selama kurang lebih tiga tahun.  Bohori, pelestari bundengan asal Ngabean Kalikajar, terus berusaha mencari jalan untuk menghidupkan kembali alat musik Bundengan. Kemudian, suatu saat beliau mengajak Munir, adik almarhum Barnawi, untuk meneruskan apa yang sudah dimulai Barnawi. Ternyata Munir juga ahli dalam memainkan bundengan, karena terbukti setelah itu, mereka berdua dengan kecintaannya terhadap Bundengan membuat alat musik etnik itu kembali hidup dari panggung ke panggung, dari pentas ke pentas sebagai performer kehormatan, dan juga sempat beberapa kali diundang sebagai pembicara di beberapa acara kebudayaan tidak hanya di Wonosobo bahkan di luar kota seperti Yogyakarta dan masih banyak lainnya.

Senada dengan yang dilakukan Munir dan Bohori, Guru Seni Budaya dan Founder Ngesti Laras Foundation, Mulyani, juga punya cara sendiri untuk membuat Bundengan tetap “berdengung”. Salah satunya awalnya adalah dengan memasukkan Bundengan sebagai ekstrakurikuler di sekolah, bahkan sekarang sudah masuk kedalam pelajaran dan silabus. Workshop untuk guru-guru juga sedang digalakkan bersama dengan Pemkab, agar seni tradisi Bundengan bisa dipelajari langsung di sekolah.

 

***

text by: Luqmanul Chakim dan Wening TS