Libatkan Penonton Dalam Closing Konser Bundengan

WONOSOBO – Respon masyarakat terhadap pagelaran Konser Bundengan dalam What Is Bundengan 2018 ternyata sangat bagus, bahkan antusiasme para penontont terlihat hingga penutupan konser yang dihelat di Adipura kencana, kemarin malam (26/11/2018). Konser yang diakhiri tepat pukul 12.00 WIB malam itu ditutup dengan Pesta Bunyi. Sebuah pertunjukan yang melibatkan para penonton untuk ikut membunyikan alat music.

“Di Pesta bunyi ini konsepnya sederhana, para penonton kita ajak untuk membuat suara sekeras-kerasnya dengan memukul  kentongan maupun sebilah bambu mengikuti arahan penampil. Pesta bunyi juga melengkalo cerita yang sudah dipandu dari awal sesuai lakon yang ditampilkan di layar,” ungkap Luqmanul Chakim ketua panitia Konser Bundengan, kemarin (27/11).

Penampilan Arranger Chandra Dany membuka Konser bundengan dan menggesek senar Bundengan di Konser Bundengan (26/11/2018)

Sebelum pesta bunyi, Lukman juga mengkomposisi sebuah penampilan musical yang melibatkan sedikitnya 30 bundengan yang dimainkan oleh para siswa SMPN 2 Selomerto dengan berbagai alat music lain termasuk EDM yang biasanya lazim digunakan pada aliran musik modern seperti dance. Beberapa penampilan sebelumnya juga tak kalah unik yakni penampilan dari Wayang sampah asal Solo yang menggandeng seniman asal Hungaria Dora Gyorfi. Dora sendiri juga melantunkan tembang jawa layaknya seorang sinden jawa dengan piawai.

“Kami juga ingin mengenalkan wayang sampah ke masyarakat bersama bundengan sehingga bisa lebih dikenal di Wonosobo. Kebetulan rekan-rekan dari ISI solo juga sangat antusias ketika kami kontak untuk mengisi Konser Bundengan,” imbuh Lukman.

Pagelaran Wayang sampah yang diinisiasi Antony atau yang dikenal sebagai Tony Konde menjadi salah satu penampilan yang unik. Menggabungkan penampilan di layar layaknya wayang dengan iringan music etnik jawa yang dipadukan dengan gubahan Dora yang juga melantunkan berbagai lagu dalam berbagai bahasa.

“Wayang sampah dibuat dari sampah plastic dan harapan kami bisa menjadi inspirasi untuk bisa menyelesaikan masalah sampah yang tidak hanya ada di kota kami (Solo) lewat pementasan seni. Wayang sampah ini kami buat di Solo,” ungkap Tony yang menginisisasi Komunitas Wayang Sampah atau Wangsa.

Tak kalah menarik, komposisi dari Syahrul Nuryansyah atau Arul asal Bandung yang menggabungkan lantunan suara bundengan dengan instrument khas jawa barat bersama rombongannya.

“Saya bangga konser ini bisa benar-benar digelar di Wonosobo mengingat setahun yang lalu ketika datang ke Wonosobo kami banyak membahas tentang bundengan dan saya harap keaslian bundengan ini terus bisa dijaga oleh masyarakat Wonosobo sendiri,” ungkap Arul. (win)