Dikemas Aksi Menawan Seniman Lokal & Manca

WONOSOBO – Bundengan yang sudah beberapa tahun terakhir diangkat dan ditampilkan hingga ke beberapa Negara termasuk Australia kembali dalam sebuah Konser yang mewah namun bisa dinikmati seluruh masyarakat dan wisatawan Sabtu malam (27/7). Lebih dari 3000 penonton memadati alun-alun kota dan menyaksikan konser hingga usai yang ditutup dengan pesta bunyi. Menurut kepala dinas pariwisata, One Andang Wardoyo, pihaknya dan berharap masyarakat mendukung agar Bundengan bisa menjadi ikon musik asal Wonosobo.

“Mari kita dukung kemajuan kebudayaan khususnya musik bundengan sebagai ikon Wonosobo dan kami sangat berterimakasih untuk suksesnya agenda Festival Sindoro Sumbing dan ternyata konser ini dapat sambutan luar biasa masyarakat,” ungkapnya saat membuka agenda.

Agenda konser itu selain melibatkan para seniman muda wonosobo dan arranger lokal juga melibatkan para siswa, guru, serta seniman dari lima Negara. Para seniman berasal dari Perancis, Hungaria, Jerman, Jepang, dan Timor Leste. Menurut Andang, dukungan penonton dan para pengusaha lokal termasuk kuliner maupun hotel sangat mendukung adanya atraksi wisata seperti konser bundengan yang dikemas mewah dan tidak biasa itu.

“Harapan kami beberapa arranger dan musisi lokal seperti Luqmanul Chakim dan Agung Wahyu Utomo bisa mengembangkan ini untuk bisa terus diangkat sekaligus mengangkat budaya asli Wonosobo lewat bundengan maupun lainnya,” ungkapnya.

Agenda itu juga dibuka oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Najamudin Ramli yang mengaku sangat tertarik dengan konsep yang diangkat Wonosobo yakni alat musik bundengan.

“Indonesia ini adalah Negeri yang punya kesantunan tinggi dengan kekayaan budaya. Dari awalnya apresiasi yang rendah dari atraksi budaya maka kemudian diangkat dengan platform Indonesiana yang disajikan para seniman dengan cita rasa tinggi. Maka harapan kami ini bisa terus didukung para pemimpin daerah,” ungkapnya.

Konser yang dikemas megah digarap oleh beberapa orang seniman lokal yakni Luqmanul Chakim, Agung Wahyu, Candra Dany, dan maestro bundengan pak Munir dan Bohori, bersama beberapa seniman dari manca Negara dengan penampilan yang memukau.

“Kami sengaja tidak mengundang artis terkenal, karena kami ingin memberi ruang pada para seniman lokal untuk unjuk kemampuan. Sehingga bisa bersaing dengan mereka yang berasal dari kota besar,” ujarnya,” pungkas Andang. (Erwin Abdillah)