Palmer dan Tim Persiapkan What is Bundengan 2019

Beberapa pekan menuju event What is Bundengan 2019 (WIB 2019) yang akan dihelat selama tiga hari di dusun Ngabean, desa Maduretno kecamatan Kalikajar 25-27 Oktober mendatang, persiapan dilakukan para panitia. Bahkan para pembicara dan tim peneliti semakin intens membedah sejarah Bundengan. Instrumen yang juga dikenal sebagai Kowangan yang hampir keseluruhannya terbuat dari bambu itu sempat dikhawatirkan punah jika tidak diangkat dan diperkenalkan pada generasi Wonosobo.

palmer dan tim peneliti di kediaman Muntamar Ngelo, Wringinanom, Kertek

Meskipun masyarakat ada yang mengenalnya sebatas tudung tukang angon bebek atau Kowangan, tetapi ternyata jejak-jejak sejarah Bundengan masih melekat di beberapa wilayah Wonosobo. Beberapa di antaranya ditelusuri Palmer Keen, seorang Etnomusikolog asal California Amerika Serikat yang kini tinggal di Jogjakarta. Palmer didampingi Luqmanul Chakim, direktur WIB 2019 bersama tim riset lokal yang beranggotakan Agus WP dan M Said Abdulloh mengunjungi dua pemain senior di kawasan kecamatan Kertek, kemarin (3/10)

“Sebentar lagi kami akan terlibat di acara What is Bundengan 2019 dan kami ingin mengenal lebih jauh tentang sejarah bundengan sebagai instrument. Ternyata beberapa pemain seniornya masih mengingat dengan baik cara memainkan dan mereka ternyata berjejaring, dalam artian saling mengenal akrab meski tinggal berjauhan. Kami khawatir jika ini tidak digali, maka sejarah bundengan sebagai instrument tidak dipahami masyarakat,” ungkap Luqman yang sudah mementaskan Bundengan di Australia dua kali itu.

Sementara itu, Palmer Keen yang sudah beberapa kali ke Wonosobo baik untuk meneliti Bundengan maupun mengisi seminar di tahun 2018 lalu, mengaku sangat tertarik menggali bagaimana bundengan dimainkan di era tahun awal 2000-an. Di mana tahun itu adalah awal bangkitnya instrument yang dibuat dengan anyaman bambu, clumpring (kulit bambu), dan ijuk itu.

“Saya tidak menyangka bapak-bapak ini meskipun sudah bertahun-tahun tidak memainkan bundengan masih sangat akrab. Kami menemukan bahwa di zaman dahulu, mereka cenderung menggunakan ijuk sebagai dawainya, bukan senar. Bahkan cara memainkan baik senar maupun batang bambu sebagai kendang juga sangat unik. Mereka memiliki pemahaman masing-masing tentang Bundengan ini,” ungkap Palmer yang sudah berkeliling Indonesia untuk meneliti alat musik etnik itu.

Tim mengajak Palmer ke kediaman Muntamar dan Purnomo, dua orang pemain bundengan senior. Di kediaman Muntamar, tim selain mendokumentasikan cara bermain, juga membuka diskusi tentang bagaimana bundengan dimainkan di era sebelum 2000-an atau di era 70an hingga 80an. Menurut Agus WP, salah satu Tim peneliti, menilai bahwa masyarakat di masa itu sudah memiliki teknik yang cukup lengkap dalam memainkan bundengan. Bahkan gagasan menggunakannya sebagai pengganti instrument gamelan juga sudah ada. Penjelajahan sejarah Bundengan mereka disebut Agus akan menelusuri hingga Ngabean, di mana almarhum Barnawi pernah mengangkat Bundengan hingga ke beberapa kota dan mengenalkannya di media.

“Bisa jadi yang menganggap bundengan sebagai instrument untuk tampilan panggung, tapi ada juga yang mengaggapnya sebagai alat musik pribadi. Bahkan ada yang hanya memainkannya di sawah sambil angon bebek saja tanpa tembang atau nyanyian. Tapi kebanyakan masyarakat hanya tahu sebagai tudung atau Kowangan saja,” pungkasnya. (Erwin Abdillah/Wonosobo)

..


#WIB2019 #BerceritaDalamKesederhanaan #WhatisBundengan #BundenganConnection